4 Februari 2012
Surat ini khusus ku alamat kan ke hatimu, tempat dimana pernah aku menetap dulu tapi sekarang tak ku ketahui lagi alamat detail dan daerah spesifiknya. Entah mengapa, saat aku menulis surat ini, aku mengingat saat pertemuan pertama itu terjadi. Apakah kau ingat dengan tanggal 8 Agustus 2011 silam? Masi ingat kah kau apa itu 'Opung'? Masi ingat kah kau tanggal 20 September 2011? Disaat kita mulai merajut kedua perasaan kita yang telah lama meronta untuk dipersatukan. Ingat kah kau itu semua? Salahkah aku mengingat setiap detail dari kenangan kita disaat kau dengan mudah melupakannya?
Aku tau aku melakukan kesalahan. Dan setiap orang pun mengetahui bahwa tidak ada manusia yang tidak sempurna. Setiap orang layak mendapatkan kesempatan kedua. Tapi apakah aku layak? Apakah kau memberiku kesempatan itu? Bahkan untuk menatap matamu dan menghayati senyummu pun aku sudah diluar batas.Apa yang membuat sekarang dengan 5 bulan lalu begitu berbeda? Dimana kata-kata 'sayang' yang saling kita ucapkan itu? Dimana senyum sindiran untuk lukisan hariku?
Untukmu 'lawan' badmintonku..
Sesaat setalah aku memasuki sekolah Budi Murni 1 Medan, kau lah orang yang pertama. Yang pertama kali paling menarik perhatianku. Kau adalah yang pertama. Membuatku tertawa dengan cara kita berkenalan. Kau adalah yang pertama. Membuat aku merasakan canggung dan grogi. Kau adalah yang pertama. Seorang hawa yang membuatku tersipu malu karena perhatianmu. Kau adalah yang pertama. Seseorang yang pertama kali mengajarkanku untuk mengepakkan sayap, juga seseorang yang mematahkan sayap-sayapku.
Untukmu 'guru' matematikaku..
Aku sungguh minta maaf dengan tulus dari lubuk hatiku yang terdalam. Dari tempatmu bersinggah saat dulu, sampai akhirnya kau memutuskan untuk meninggalkannya serta membuatnya berbekas. Kau ingat tanggal dengan 20 September 2011? Apakah tanggal 20 masih menjadi tanggal yang begitu spesial bagi kita? Setelah tangan perpisahan menyebabkan kita saling menjauh. Setelah kata putus menjadi kesepakatan terbaik bagi kita berdua. Mungkin kau tidak menyadari, bahwa posisis ku sekarang terjepit antara harapan kosong dan beribu luka serta harap yang tidak terlampiaskan.
Sejauh apapun kau berlari, kau tidak akan bisa menyangkal bahwa aku adalah orang yang pernah mentap dihatimu. Tapi kenapa kau seolah-olah menganggap aku ini tidak pernah ada dikehidupanmu? Sesusah apakah kau mengakui ku sebagai 'mantan' disaat orang bertanya-tanya tentang cerita kita? Seakan aku telah hilang ditelan waktu didalam kehidupanmu. Seakan kita memandang matahari yang berbeda disiang, dan bulan yang berbeda setiap malam.
Tolong jangan bunuh aku perlahan dengan pengabaianmu. Aku sudah sekarat untuk tetap mencintaimu. Aku berusaha tidak jenuh menunggu, menunggu untuk kau cintai kembali. Namun kau hanya menganggap ku lalu, seperti tak kasat mata aku bagimu. Tak tau kah seperti apa perasaan hati yang tak terbalas? Menanti sesuatu yang tak kunjung datang? Pernahkah kau mencintai seseorang dengan sangat, kemudian sadar bahwa cintamu tidak terbalas? Aku bertahan tanpa alasan yang jelas, aku menunggu tanpa adanya kepastian, hanya karena aku berharap kau akan kembali. Aku lelah menantimu, tapi aku tak ingin menyerah sampai kau berbalik arah dan menatapku tanpa amarah.
Aku tau kok aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, dan pastinya bukan seseorang yang kau anggap berarti lagi bagimu, tapi aku sayang samamu, sangat sayang. Dan inilah perpisahan yang kau mau, aku hanya lah tokoh didalam ceritamu, dan menjalankannya sesuai skenario mu. Aku tau sikap dan mulutku berkata bahwa aku membencimu dengan suatu alasan yang tidak aku ketahui, dan banyak orang sudah mempercayai omong kosong itu. Tetapi kejujuranku menenggelamkan kemunafikan ku, nyatanya aku masih mengharapkanmu.
Ada banyak hal yang akan membuatku tidak bisa melupakan Medan. Ada banyak hal yang dimiliki Medan tapi tak dimiliki kota-kota lainnya. Ada beberapa hal yang akan kurindukan dari kotaku, salah satunya adalah......dirimu.
Untuk seseorang berinisial L.H
Dari mantan kekasihmu yang sedang menyelamatkan mimpi-mimpinya
bahwa kita bisa saling memaafkan
dan memulai semuanya dari sebelum awal terjadi.
Inspired by : Dwitasari
With All my last hope :(
Sihar Aditia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar