Jumat, 13 April 2012

Selamat Tinggal

Kapasitasku memang hanya mantan, tapi perasaanku padamu lebih rumit daripada seorang mantan. ~ Sihar Aditia

20 Februari 2012

Mungkin inilah definisi dari bodoh, melukai orang yang berharga bagi kita sampai-sampai orang itu tidak akan memaafkan kita.

Ingatkah kau tanggal berapa sekarang ini? Ingatkah kau ada apa dibalik tanggal ini? 20 Februari 2012, andai saja kata putus tidak menjadi kesepakatan kita berdua, mungkin saat ini kita akan tertawa bahagia dalam 5 bulan hubungan kita. Tidak terasa sudah 2 bulan kita berpisah, 8 minggu sudah kita mencoba untuk bangkit dari keterpurukan kekecewaan, dan 60 hari telah kita usahakan untuk bisa melupakan dan mengikhlaskan satu sama lain, tetapi dari kenyataan yang ada hanya kau lah yang berhasil.

Untuk seseorang yang belum beranjak dari pikiranku...

Sebenarnya aku tidak tau harus memulai dari mana, karena untuk menuliskan surat kedua ku untuk mu ini aku pun berpikir terlebih dahulu. Berpikir tentang gengsi ku, berpikir akan komentar orang-orang, berpikir tentang pengabaianmu yang akan menganggap bahwa ini adalah kumpulan kata yang tidak berguna dan tidak akan merubah apapun. Tetapi setiap orang harus mempunyai keberanian, setidaknya untuk mengungkapkan perasaannya.

Untuk seseorang yang sedang membenciku...

Masihkah ada amarah dalam dirimu? Atau mungkin dendam yang merasuki dalam benakmu? Untuk kesekian kalinya dengan cara dan kenyataan yang sama aku sungguh-sungguh menyesali atas semua kebodohan ku yang hanya bisa melukaimu. Saat aku menuduhmu, saat aku  meragukanmu, bahkan yang paling gila sekalipun adalah disaat au mengumbar semua fitnah untukmu di suatu jejaring sosial yang bernama twitter. Sungguh, itu adalah perbuatan yang paling tolol yang pernah aku lakukan.

Disini aku akan menegaskan sekali lagi bahwa aku akan belajar melupakanmu dari caramu melupakanku. Walaupun kadang aku rindu saat-saat kau memanggilku dengan "panggilan berbeda" yang tidak diberikan seseorang selain kau, tetapi aku akan mencoba. 
Walaupun kadang aku rindu saat-saat dimana kita jalan bersama dan kita saling mengunci tatapan. tetapi aku akan berusaha. 
Walaupun kadang aku iingin sekali berteriak didepanmu agar kau tau sebagaimana besar & tulusnya aku mengharapkanmu, tetapi aku akan menahan. 
Walaupun kadang aku bersedih dan tidak jarang merasakan sakit yang amat saat aku menghayal kepergianmu, aku akan bertahan, dan akan terus bertahan.

Kau memang tidak pernah mengingaat hal-hal yang kita lewati berdua, aku saja yang terlalu rajin untuk mengenangnya. Tetapi  bila kau telah menemukan penggantiku, aku mohon tetap simpan namaku dihatimu dan jangan lupakan kenangan kita. Aku menyadari bahwa dulu aku telah menyia-nyiakan dirimu, dan setelah aku kehilangan dirimu, aku baru sadar bahwa kau sangat berharga. Dan sekarang tidak ada celah lagi bagiku untuk mengulang semuanya. Biarlah masa lalu menjadi kenangan, dan akan ku jadikan hari esok menjadi bayangan.

Mungkin mulai sekarang aku harus membuka hatiku untuk seseorang seperti kau membuka hatimu untuk dia. Dan perlu kau tau bahwa sampai surat ini selesai ku tulis, aku bukannya berhenti mencintaimu, hanya saja aku berhenti untuk menunjukkannya. Karena amat sangat lah sakit jika apa yang ku korbankan ke kau, tetapi kau tidak dapat menghargainya.Dan ini adalah surat kedua sekaligus yang terkahir untuk melukiskan perasaanku padamu. Sampai ada cara dan kenyataan yang akan mempersatukan kita lagi, aku akan berusaha untuk melupakanmu. Selamat tinggal, L.H :')


With hope to love
Sihar Aditia :)


Sabtu, 04 Februari 2012

Ini lah kita. Dengan segala kebencian kita. Bolehklah cinta tiba-tiba hadir? Menyergap rasa ragu yang seringkali disebut takdir.

4 Februari 2012

Surat ini khusus ku alamat kan ke hatimu, tempat dimana pernah aku menetap dulu tapi sekarang tak ku ketahui lagi alamat detail dan daerah spesifiknya. Entah mengapa, saat aku menulis surat ini, aku mengingat saat pertemuan pertama itu terjadi. Apakah kau ingat dengan tanggal 8 Agustus 2011 silam? Masi ingat kah kau apa itu 'Opung'? Masi ingat kah kau tanggal 20 September 2011? Disaat kita mulai merajut kedua perasaan kita yang telah lama meronta untuk dipersatukan. Ingat kah kau itu semua? Salahkah aku mengingat setiap detail dari kenangan kita disaat kau dengan mudah melupakannya?

 Aku tau aku melakukan kesalahan. Dan setiap orang pun mengetahui bahwa tidak ada manusia yang tidak sempurna. Setiap orang layak mendapatkan kesempatan kedua. Tapi apakah aku layak? Apakah kau memberiku kesempatan itu? Bahkan untuk menatap matamu dan menghayati senyummu pun aku sudah diluar batas.Apa yang membuat sekarang dengan 5 bulan lalu begitu berbeda? Dimana kata-kata 'sayang' yang saling kita ucapkan itu? Dimana senyum sindiran untuk lukisan hariku?

Untukmu 'lawan' badmintonku..

Sesaat setalah aku memasuki sekolah Budi Murni 1 Medan, kau lah orang yang pertama. Yang pertama kali paling menarik perhatianku. Kau adalah yang pertama. Membuatku tertawa dengan cara kita berkenalan. Kau adalah yang pertama. Membuat aku merasakan canggung dan grogi. Kau adalah yang pertama. Seorang hawa yang membuatku tersipu malu karena perhatianmu. Kau adalah yang pertama. Seseorang yang pertama kali mengajarkanku untuk mengepakkan sayap, juga seseorang yang mematahkan sayap-sayapku.

Untukmu 'guru' matematikaku..

Aku sungguh minta maaf dengan tulus dari lubuk hatiku yang terdalam. Dari tempatmu bersinggah saat dulu, sampai akhirnya kau memutuskan untuk meninggalkannya serta membuatnya berbekas. Kau ingat tanggal dengan 20 September 2011? Apakah tanggal 20 masih menjadi tanggal yang begitu spesial bagi kita? Setelah tangan perpisahan menyebabkan kita saling menjauh. Setelah kata putus menjadi kesepakatan terbaik bagi kita berdua. Mungkin kau tidak menyadari, bahwa posisis ku sekarang terjepit antara harapan kosong dan beribu luka serta harap yang tidak terlampiaskan. 

Sejauh apapun kau berlari, kau tidak akan bisa menyangkal bahwa aku adalah orang yang pernah mentap dihatimu. Tapi kenapa kau seolah-olah menganggap aku ini tidak pernah ada dikehidupanmu? Sesusah apakah kau mengakui ku sebagai 'mantan' disaat orang bertanya-tanya tentang cerita kita? Seakan aku telah hilang ditelan waktu didalam kehidupanmu. Seakan kita memandang matahari yang berbeda disiang, dan bulan yang berbeda setiap malam.

Tolong jangan bunuh aku perlahan dengan pengabaianmu. Aku sudah sekarat untuk tetap mencintaimu. Aku berusaha tidak jenuh menunggu, menunggu untuk kau cintai kembali. Namun kau hanya menganggap ku lalu, seperti tak kasat mata aku bagimu. Tak tau kah seperti apa perasaan hati yang tak terbalas? Menanti sesuatu yang tak kunjung datang? Pernahkah kau mencintai seseorang dengan sangat, kemudian sadar bahwa cintamu tidak terbalas? Aku bertahan tanpa alasan yang jelas, aku menunggu tanpa adanya kepastian, hanya karena aku berharap kau akan kembali. Aku lelah menantimu, tapi aku tak ingin menyerah sampai kau berbalik arah dan menatapku tanpa amarah.

Aku tau kok aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, dan pastinya bukan seseorang yang kau anggap berarti lagi bagimu, tapi aku sayang samamu, sangat sayang. Dan inilah perpisahan yang kau mau, aku hanya lah tokoh didalam ceritamu, dan menjalankannya sesuai skenario mu. Aku tau sikap dan mulutku berkata bahwa aku membencimu dengan suatu alasan yang tidak aku ketahui, dan banyak orang sudah mempercayai omong kosong itu. Tetapi kejujuranku menenggelamkan kemunafikan ku, nyatanya aku masih mengharapkanmu.

Ada banyak hal yang akan membuatku tidak bisa melupakan Medan. Ada banyak hal yang dimiliki Medan tapi tak dimiliki kota-kota lainnya. Ada beberapa hal yang akan kurindukan dari kotaku, salah satunya adalah......dirimu.

Untuk seseorang berinisial L.H
 Dari mantan kekasihmu yang sedang menyelamatkan mimpi-mimpinya
 bahwa kita bisa saling memaafkan
 dan memulai semuanya dari sebelum awal terjadi.

Inspired by : Dwitasari

With All my last hope :(
Sihar Aditia